Burung Kakapo Si Betet yang nggak bisa terbang

Burung Kakapo Si Betet yang nggak bisa terbang

Burung Kakapo
Si betet yang nggak bisa terbang

Sahabat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, pernahkah tau berapa banyak jenis burung yang tidak bisa terbang? Selain burung Unta, burung Kasuari dan ada lagi? Begitu indah ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala dan kita sebagai hamba-Nya patut menjaga serta melestarikan kekayaan alam yang diberikanNya. Nah, kali ini kita akan mengenal salah satu dari sekian banyak burun yang Allah titipkan pada kita tuk dipelajari dan dijaga yaitu Burung Kakapo.

KLASIFIKASI BURUNG KAKAPO

Kingdom         : Animalia

Filum             : Chordata

Kelas             : Aves

Ordo             : Psittaciformes

Famili            : Strigopidae

Genus            : Stirgops
Spesies         : Stirgops habroptilus

Morfologi Burung Kakapo

Burung Kakapo adalah burung yang berbulu indah dan habitatnya hanya ada di Selandia Baru. Burung Kakapo memiliki nama ilmiah Strigops habrotilus dengan ukuran cukup besar. Burung jantan Kakapo memiliki panjang hingga 60 cm dan berat antara 2 hingga 4 kg ketika dewasa.

Burung ini termasuk burung yang terberat karena bisa mengakumulasikan lemak dalam jumlah banyak untuk menyimpan energi. Meskipun tubuhnya besar, tapi sayap Kakapo tergolong pendek sehingga Kakapo tidak bisa terbang.

Dengan cara apa Kakapo bergerak, jika mereka tidak bisa terbang?
Tentu saja, berjalan menjadi jawabannya. Kakapo memiliki sepasang kaki yang kuat dan kokoh untuk berjalan.
Kakapo adalah pemanjat yang hebat. Mereka memiliki kuku yang kuat, yang sangat berguna untuk memanjat pohon tertinggi dan Kakapo menggunakan sayapnya untuk keseimbangan, penopang dan untuk menyesuaikan jika jatuh saat melompat dari pohon. Kadangkala, mereka menjatuhkan diri dengan mengembangkan sayapnya untuk memperlambat jatuhnya

Kakapo memiliki wajah yang mirip dengan burung Hantu. Dengan morfologi berparuh bengkok, berwarna abu-abu, bentuknya agak lebar, bulu yang halus, maka dari itu kakapo dikenal dengan ‘betet burung hantu’ (Owl parrot). Warna bulu Kakapo sangat terlihat indah. Dada dan panggul berwarna hijau kekuningan dengan garis kuning. Perut, bawah ekor, leher dan wajah mereka sebagian besar berwarna kuning bergaris hijau.

Kakapo, Burung Nokturnal

Kakapo merupakan burung yang tergolong nokturnal (aktif pada malamhari) dan pada siang hari Kakapo lebih banyak istirahat dan bersembunyi di bawah pohon tidak seperti burung biasanya. Kakapo memiliki retina yang sangat miripo dengan binatang nocturnal lainnya, yang diaman fungsinya untuk mempermudah untuk melihat di kegelapan. Kakapo juga memiliki indra penciuman yang bagus.

Pola Makan Kakapo

Kakapo walaupun termasuk burung yang nokturnal akan tetapi Kakapo merupakan hewan herbivora. Makanan kakapo adalah buah dan biji-bijian. Kakapo kerap memakan jenis beri-berian, kacang, benih serta bunga. Kakapo memiliki kebiasaan lain berebut daun atau daun palem dengan makanan dan kulit bagian nutrisi tanaman yang dikeluarkan paruhnya, yang menyisakan gulungan serat yang sulit dicerna. Perdu serat tanaman kecil ini merupakan tanda perbedaan keberadaan Kakapo. Kakapos dipercaya mempekerjakan bakteri dalam foregut untuk memfermentasikan dan membantu masalah pencernaan tanaman.

Adapun buah favorit yang dimakan oleh Kakapo yaitu buah rimu, buah endemik dari Selandia Baru. Jika buah rimu berlimpah maka Kakapo hanya akan memakan buah rimu saja. Kakapo tidak tergoda dengan buah lain ya teman-teman jika ada buah rimu 😊

Kakapo merubah pola makan tiap musim. Tanaman yang paling sering dimakan setiap tahun meliputi beberapa spesies  Lycopodium ramulosumLycopodium fastigiumSchizaea fistulosaBlechnum minusBlechnum procerumCyathodes juniperinaDracophyllum longifoliumOlearia colensoi dan Thelymitra venosa. Tanaman individu dari spesies yang sama sering dilakukan dengan cara berbeda. Kakapo meninggalkan bukti menarik dari aktivitas makan mereka, dari 10×10 m hingga 50×100 m area permukaan untuk mencari makan.


Dimorfisme Seksual

Kakapo merupakan burung yang memiliki dimorfisme seksual pada ukuran tubuhnya, memiliki metabolism dasar yang rendah, dan uniknya Kakapo jantan tidak mengasuh anaknya jadi Kakapo betina yang bertelur 3 butir setiap kawinakan dirawat dan dierami sendiri. Mereka bersarang di tanah seperti di lekukan akar pohon yang terlindung.

Apa sih Dimorfisme seksual?

Dimorfisme seksual adalah perbedaan sistematik luar antar individu yang berbeda jenis kelami dalam spesies yang sama. Contohnya pada burung kakapo betina memiliki kepala dan paruh yang lebih kecil/sempit, wajahnya tidak terlalu mirip dengan burung hantu, Ceres dab lubang hidung pada Kakapo betrina lebih kecil dari yang jantan, kaki lebih ramping dan berwarna campuran antara merah muda dengan abu-abu, ekor kakapo betina lebih panjang daripada kakapo jantan, dan lebih agresif dari pada kakapo jantan.

Perlu Sahabat ketahui bahwa Kakapo memiliki harum yang khas, yang bermanfaat dalam gaya hidup malam harinya. Hal ini membantu burung Kakapo untuk mencari dan untuk mendapati sekumpulan Kakapo lainnya. Sayangnya, hal ini membantu pemangsanya untuk mendapatinya.


Musim Kawin Kakapo

Kakapo jantan akan memikat betina dengan kicauan lagu dan tarian kelompok. Selama musim kawin, kakapo jantan dapat bergerak dengan normal hingga 4 kilometer untuk mencapai arena khusus yang diketahui untuk bersaing satu dengan lainnya untuk memikat betina. Mereka menghadapi lainnya dengan menegakkan bulu, mengembangkan sayap, membuka paruh, menegakkan cakar dan mengeram nyaring dan melengking. Perkelahian akan menjadikan burung-burung itu terluka.

Setiap jantan akan menggali lubang di tanah hingga kedalaman 10 sentimeter, seringkali daerah yang akan digalinya di sisi batu atau di sisi sungai untuk memantulkan kicauan panggilan kawinnya. Untuk menarik betina, Kakapo jantan akan mengeluarkan suara “booming” yang keras dengan frekuensi rendah (dibawah 100 Hz) dari lubang mereka dengan memompa kantung rongga dada, dan kicauan ini yang bisa terdengar hingga sejauh 3 mil.

Setelah memancarkan sekitar 20-30 suara “booming”, Kakapo kemudian mengubah kicauannya menjadi suara “ching” yang bernada tinggi. “Ching” dan “Booming”, kicauan ini akan berlangsung selama delapan jam setiap malam, pada malam-malam selama musim kawin yangs ekitar 2 – 4 bulan.


Habitat Burung Kakapo

Kakapo tersebar luas di tiga pulau utama Selandia Baru, mereka hidup dalam berbagai habitat diantara habitat yang berumput, semak belukar, dan pantai. Kakapo juga menghuni hutan, termasuk yang didominasi dengan tanaman podocarpus (pohon semak yang tingginya rata-rata 1 – 25 meter) dan beech (pohon semak yang termasuk jenis kayu solid). Kakapo pada umumnya menjadikan tepi hutan dan wilayah hutan baru sebagai tempat bervegetasi tinggi dalam wilayah sempit.

 ‘Freeze’ Adaptasi Kakapo

Dalam adaptasinya terhadap pemangsa Kakapo memiliki cara yang unik yaitu Kakapo akan bersikap membeku atau terbujur kaku dan berbaur pada lingkungan sekelilingnya, mengingat warna bulunya menyerupai dengan daun-daunan dan tanah.

Namun startegi ini hanya bisa berhasil bila pemangsanya adalah elang yang memakai indra penglihatan untuk berburu. Sementara trik ini tidak terlalu berhasil jika hewan pemangsanya tergolong mamalia yang memakai indra penciuman untuk mencari mangsa.

Kakapo Terancam Punah

Kakapo menjadi burung yang langka dan jumlahnya tinggal sedikit dan terancam punah karena predator mereka bertambah banyak (tikus dan kucing tentunya, terlebih burung ini bersarang di atas tanah), diburu manusia untuk ornamen, habitat yang rusak, dan hanya bertelur tiap beberapa tahun. Kakapo banyak diburu untuk diperlihara, maupun dikonsumsi dagingnya dan diambil bulu-bulunya.

 

Sahabat muslim dan Muslimah, kita boleh mengaguminya, kita boleh menyukainya, hanya saja bukan dengan cara memeliharanya di kendang, di rumah kita dan kita konsumsi dagiing maupun bulunya. Hal itu akan menyebabkan populasi Kakapo punah dan generasi selanjutnya.
Lestarikan alam kita ya Sahabat, agar anak cucu kita bisa melihat alam yang begitu indah seperti yang kita lihat saat ini.
Barakallahu fii kum.. 

 


Related Post